Minggu, 21 Januari 2018

Naik kelas

Allah emang selalu punya cara-cara tak terduga untuk mendewasakan hamba-Nya.
Ya,ujian adalah cara Allah mendidik seorang hamba. Setiap hamba pasti diuji,sebagian diuji dengan masalah di diri nya sendiri,sebagian diuji seputar keluarga dan sebagian lain diuji dengan lingkungan sekitar. Kalau ditanya mana yg lebih berat,semuanya punya porsi nya masing-masing. Namanya juga ujian,ia ada untuk menaikkan level ketaqwaan seorang hamba.Ah terkadang kita nya saja yang terlalu manja tak ingin diuji. Apakah kau fikir kkau akan di diamkan saja setelah beriman?tidak,kalian pasti akan diuji. 

pesan ku untuk diriku dan dirimu. Bertahanlah,tekankan pada dirimu bahwa ujian ini hanya 2 menit. dua menit itu waktu yg singkat bukan?waktu terus berjalan,menit itu pasti berlalu. 

Satu lagi,berdoalah. Minta agar Allah kuat kan hati mu. Jika Allah mampu memberi apa yg tak kita minta,Allah pasti lebih mampu memberi apa yg kita pinta. Tak sedikit juga hamba yang berhasil melewati ujian. Kalau mereka saja Allah kuatkan hati nya,apa hatimu saja yang dilemahkan?Kalau mereka saja Allah teguhkan hatinya,apa tega Allah ragukan engkau yang telah berusaha?

Jakarta,17 Januari 2018
Nida Hanifah

Rabu, 10 Januari 2018

Di penghujung siang

"Kak,kk pandai bahasa inggris kan?ajari aku ya,aku pun ingin pandai bahasa inggris" pinta nya polos

Di penghujung siang,saat kami sedang menghafal quran,tiba-tiba ia mendatangi ku untuk diajari bahasa inggris. Tumben sekali,kata ku. Biasanya ia sangat berambisi mengejar target hafalannya,ah mungkin ingin rehat sebentar. 

"Kak,kk belajar bahasa inggris dari kelas berapa?"

"Gimana biar bisa pandai bahasa inggris kayak kk?"

Dan pertanyaan serupa lainnya yang menyangkut kemampuan ku berbahasa inggris. Aku jawab seadanya,tapi ia belum puas dan meminta ku menceritakan proses belajar ku sampai pandai,katanya. Yasudah ku ceritakan saja apa yang ia ingin tahu.

"Aku ga sepandai yang kamu kira ko,aku juga masih belajar. Lagipula kamu juga pandai berbahasa arab kan?aku malah pengen banget bisa lancar ngomong bahasa arab kayak kamu" kata ku

"Tapi temen-temen ku bilang bahasa inggris itu kan bahasa internasional,jadi lebih penting kak daripada bahasa arab"

"Hm.. gitu ya?tenang...tenang.. InsyaAllah beberapa tahun kedepan bahasa arab yg jadi bahasa internasional hehe"

Aku mencoba memberi sedikit pengertian,bahwa pandai berbahasa inggris pun belum tentu se bahagia yang ia pikirkan. Lalu dia bilang

"Ah kakak ini seperti papah ku aja,suka bilang kayak gitu untuk menghibur aku.  Yakan?hahaha" 

"Itu bukan lelucon bil. Kita tunggu aja InsyaAllah hehe" 

Aku tahu ia sangat berambisi untuk bisa berbahasa inggris,sampai ia lupa bahwa ia juga memiliki kemampuan berbahasa arab yang patut ia syukuri

"Kita emang harus terus belajar bil,tp jangan lupa juga bersyukur. Kamu tahu,ketika kamu disini ingin sekali bisa bahasa inggris,diluar sana juga banyak orang-orang yg sangat ingin bisa berbahasa arab. Aku salah satu contohnya nih hehe"

"Hmm iya tapi aku pun tetep mau pandai bahasa inggris kayak kk. Ajari aku yaaa" 

Ingin tertawa rasanya liat muka polos anak 15 tahun yang lagi memelas minta diajari bahasa inggris. 

"Iya iya kamu boleh tanya aku apa yang kamu mau tau. Tp kamu juga ajari aku bahasa arab ya,impas kita hahaha"

Begitulah sedikit percakapan 'colongan' yang terjadi saat waktu nya menghafal. Dari percakapan singkat itu aku merasa malu karena sedikit sekali syukur ku selama ini. Bertahun-tahun aku diberi kesempatan untuk belajar bahasa internasional itu,tp terkadang masih ku sia-sia kan. Dari percakapan itu juga aku jadi terpacu untuk mendalami bahasa arab,bahasa yang dipilih Allah.

Saat dauroh itu,keseharian nya memang lebih banyak menggunakan bahasa arab. Aku pun merasa skill inggris ku tak terpakai disana dan aku jadi orang yang paling sering nanya 'eh itu artinya apa?' Ketika denger percakapan ataupun penjelasan ustadz dalam bahasa arab dan sering juga minta tulisin tulisan arab panjang yg lagi diajarkan. 

Seringkali aku minder dengan hal-hal yang bagi mereka mungkin sepele tapi tidak bagi ku. Sebenarnya mungkin saja mereka memaklumi keterbatasan ku karena aku dari SD sampai SMA tidak sekolah di sekolah berbasis Islam. Tapi walaupun begitu,aku tetap berusaha agar kualitas ku sebagai santri amatiran bisa setara dengan mereka yang tinggal di pondok muehehe
© Andromeda Nida
Maira Gall