Rabu, 19 Juli 2017

Kisah pemecatan Khalid Ibn Walid






Kepergian Khalid telah meninggalkan
kekosongan yang tak dapat diisi
dalam Islam
-Umar Ibn Khathab


Dari Panglima Perang Menjadi Prajurit Biasa

Pada tahun 13 H, kaum muslimin tengah berperang di Yarmuk, dengan Khalid bin Walid menjadi panglimanya. Ketika itu, Khalifah Abu Bakar meninggal dunia di Madinah. Abu Bakar, mewasiatkan agar Umar menjadi penggantinya.

Di saat perang sedang berkecamuk,dan Khalid yang tengah mengatur pasukan dan strategi perang, tiba-tiba ada utusan dari Khalifah Umar yang mendatangi pasukan kaum muslimin. Utusan itu mendatangi Abu Ubaidah Al-Jarrah dan menyampaikan perintah dari Khalifah Umar tentang pemecatan Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang.

Kabar itu tidak langsung disampaikan oleh Abu Ubaidah hingga Perang Yarmuk berakhir, dan kemenangan di pihak kaum Muslim. Begitu perang usai, keputusan itu pun disampaikan oleh Abu ‘Ubaidah kepada Khalid.

“Mengapa Anda tidak menyampaikan keputusan itu, begitu sampai kepada Anda?” tanya Khalid kepada Abu ‘Ubaidah. “Saya tidak ingin mengganggu kosentrasi Anda dalam memimpin serangan. Lagi pula, kita bersaudara (sesama Muslim). Apa salahnya, jika saudara dipimpin oleh saudaranya sendiri?”

Setelahnya Khalid berperang di bawah komando Abu Ubaidah selama enam tahun lamanya. Saat prajurit-prajurit lain mempertanyakan sikap Khalid yang masih saja mau ikut berperang padahal sudah dipecat sebagai panglima (hal ini terkait harga dirinya atas sikap Umar yang telah memecatnya), Khalid menjawab, “Saya berjihad karena mengharap ridho Rabbnya Umar , bukan karena Umar.” Suatu kali Khalid pernah menyampaikan bahwa berada di medan perang lebih ia sukai dibanding berada dalam rumahnya. Sungguh potret ksatria sejati! Tetap membela islam meski tanpa jabatan.

Khalid bin Walid dipecat untuk kedua kalinya, dan untuk selamanya

Setelah itu, meski sudah sebagai prajurit biasa, Khalid diminta Abu Ubaidah untuk tetap mengomandoi penaklukan, dan diangkat sebagai penasihat perang. Ia kembali membawa kemenangan bagi kaum muslimin dengan berhasilnya strategi penaklukan benteng. Dengan segala prestasinya itu, membuat kawan dan lawan menaruh hormat setinggi-tingginya kepada Khalid. Inilah yang Ibn Qais memberikan sanjungan yang begitu tinggi kepada Khalid. Merasa tersanjung dengan pujiannya, Khalid pun memberikan hadiah kepadanya. Ada yang mengatakan, 500 Dinar, ada yang mengatakan 5000 Dinar, dan 10,000 Dinar.

Usai penaklukan benteng Damaskus, Umar memecat Khalid untuk kedua kalinya sebagai prajurit perang. Umar meminta Khalid kembali ke Madinah. Khalid melepaskan meninggalkan pasukan muslimin, melepaskan kiprah kemiliterannya sebagai prajurit, dan kembali menuju madinah, patuh akan perintah Khalifah.

“Wahai, Amirul Mukminin. Apakah benar saya dipecat?”, tanya Khalid.
“Ya! Anda saya pecat!”, jawab Umar tegas.
“Baiklah, ya Amirul Mukminin. Saya dengar dan saya taat pada anda. Tapi bolehkah saya tahu alasannya? Apa kesalahan saya sehingga harus dipecat?”, tanya Khalid lagi penasaran.
“Anda sama sekali tidak berbuat kesalahan, sedikit pun!”, jawab Umar.
“Atau mungkin saya kurang ahli dalam hal peperangan?”, tanya Khalid lagi.
“Tidak! Saat ini, anda adalah panglima perang terbaik yang pernah kami miliki!”, jawab Umar.
Khalid bin Walid terdiam. Ia tampak bingung dan linglung. Melihat ini, Umar bin Khaththab tersenyum.
“Dengarlah, wahai Khalid!”, ujar Umar.
“Anda adalah seorang jenderal terbaik dan panglima perang terhebat. Banyak sekali pujian yang ditujukan pada anda, entah itu dari pasukan anda sendiri maupun dari kaum muslimin”, lanjut Umar.
“Ingatlah, hai Khalid! Anda itu manusia biasa. Terlalu banyak pujian bisa menimbulkan rasa sombong dalam diri anda. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong?”, sambung Umar bertanya.
Khalid bin Walid tak menjawab. Ia diam seribu bahasa.
“Wahai Khalid, sesungguhnya engkau di sisiku sangatlah mulia dan engkau adalah kekasihku.Karena itu maafkan saya, wahai saudaraku! Agar anda tidak terjerumus ke dalam neraka, maka anda saya pecat!”, ujar Umar lagi.
Lagi-lagi Khalid bin Walid terdiam.
“Supaya anda tahu. Jangankan di hadapan Allah yang menguasai semesta, di hadapan Umar saja anda tidak bisa apa-apa”, jelas Umar dengan bijak.
Seketika itu juga Khalid bin Walid berdiri dan langsung memeluk khalifah Umar bin Khaththab. Ia menangis tersedu.
“Terima kasih, ya Umar! Engkau memang benar-benar saudaraku!”, ujar Khalid di sela-sela tangisannya.

Umar juga menulis surat yang dikirimkan ke berbagai wilayah sbb:

Sesungguhnya aku memecat Khalid bin Walid bukan karena aku benci kepadanya atau dia berkhianat. Akan tetapi orang-orang terlalu menghormatinya. Saya khawatir mereka akan menggantungkan kemenangan dalam medan pertempuran terhadap dirinya. Saya juga berharap mereka mengetahui bahwa Allah lah yang memberikan kemenangan. Saya juga berharap supaya mereka tidak tergoda dengan kehidupan dunia

Pelajaran ketakwaan dari Umar bin Khattab, dan keikhlasan luar biasa dari Khalid bin Walid. Semoga Allah meridhai keduanya dan para sahabat lainnya.

Sumber :
http://oasemuslim.com/peristiwa-dipecatnya-khalid-bin-walid/
http://oasemuslim.com/khalid-dipecat-untuk-kedua-kalinya-dan-untuk-selamanya/
http://fokusislam.com/3886-ketika-khalid-bin-walid-dipecat-pelajaran-dari-dua-sahabat-mulia.html
http://www.tekatekimalam.com/2016/07/hikmah-dipecatnya-sang-pedang-allah.html

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall