Jumat, 30 Juni 2017

Rindu (lagi)

Assalamu’alaykum...

Huaaaaa ga berasa ramadhan sudah berlalu. Kenapa waktu berjalan begitu cepat? gue ngerasa belum optimal dalam memperjuangkan target ramadhan gue☹. Semoga kita semua ebih bersemangat untuk mencapai gelar muttaqin. Okelah gue mau share hal yang paaaaliiiingggg berkesan di ramadhan gue tahun ini hehe.

Seperti yang sempet gue singgung dalam tulisan gue sebelumnya, ramadhan ini gue ikut program dauroh/mukhoyyam Qur’an gitu. Yap! Kali ini berlokasi di daerah cihanjuang,Bandung.7 hari yang sangat singkat tapi juga sangat bermakna.

Kenapa gue bilang singkat tapi bermakna?


1. Bertemu dengan Ahlullah

Pertemuan singkat yang bermakna yaitu saat bertemu Ahlullah,para keluarga Allah. Selalu terselip kisah-kisah manis untuk di dengar,bertukar cerita dan pengalaman,berjuang bersama untuk tujuan yang satu yaitu menjadi Ahlul Qur’an. Seperti biasa,saat berkenalan gue paling males kalo ditanya asal sekolah. Kenapa?karena gue sekolah di sekolah negeri yang gaada background islami nya hehe. Bukannya ga bangga atau ga bersyukur,tapi ya gitu deh gabisa dijelaskan dengan kata-kata haha.

Dimana ada pejuang pasti ada pendukung. Sama hal nya seperti menghafal Qur’an ini,ada yang masih dalam tahap berjuang untuk menghafal dan ada juga yang sudah melewati tahap menghafal. Siapa para pendukung itu?mereka adalah para musyrifah sekaligus panitia. Yap!mereka berperan untuk mendukung kami dan memberi motivasi menghafal. Gue sangaat sangat sangat bersyukur bisa dipertemukan oleh mereka dan gue berharap orang-orang seperti mereka akan terus ada dalam tiap langkah perjuangan gue.





2. Bukan hanya sekadar menghafal

Di program ini,peserta tidak terlalu di tuntut untuk mengejar kualitas hafalan melainkan lebih mementingkan kualitas dari hafalan itu sendiri. That’s why gue bilang ini bermakna. Kalau hanya sekadar menghafal,itu mudah,toh banyak sekarang yang sudah hafal 30juz. Tapi ingat,mengahafal juga harus disertai dengan mentadabburi agar lebih meresap ke hati. Di mukhoyyam ini ada perbaikan (tahsin) bacaan Al-Qur’an,dan terkadang para musyrifah juga menjelaskan kandungan dari ayat-ayat Al-Qur’an supaya kami tidak hanya sekadar hafal tapi juga paham.










3. Oleh-oleh semangat

Udah biasa sih kalo abis ikut dauroh gini pulang masih bawa semangat yang sama. Tapi biasanya ga bertahan lama,hanya seminggu dua minggu. Astagfirullahalazim... maafkan hamba yaAllah. Makanya sejak awal gue selalu berdoa semoga Allah istiqomahkan diri ini dengan Qur’a, karena sejatinya istiqomah itu datangnya dari Allah bukan murni dari diri kita sendiri. Sekeras apapun kita berjuang,kalo Allah tidak menghendaki,istiqomah akan sulit didapat. Sekali lagi,semoga Allah mengistiqomah kan kita bersama dengan Al-Qur’an...



Yap!gue rasa cukup 3 point aja,itu udah mencakup semuanya. Banyak rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata soalnya haha. Ohiya terakhir juga kita ada wisuda gitu. Gue sih bilang nya wisuda-wisudaan hahaha. Habis gue ngerasa masih belum pantas untuk menyandang gelar itu yang ada malah malu sama diri sendiri. Di akhir wisuda juga ada salam-salaman perpisahan gitu dan menurut gue itu scene ter-sedih dari perjalanan mukhoyyam kali ini.

Why?karena gue gatau apakah nanti akan ada kesempatan untuk jumpa lagi dengan mereka semua. Alhasil ketika itu, mata sudah tak sanggup menahan butiran air mata yang mendesak untuk keluar. Semangat demi semangat diberikan dengan tulus kepada para peserta. Ribuan kata ‘maaf’ dan ‘terimakasih’ berebut ingin memenuhi udara sehingga tak ada ruang untuk bernapas.




Andai pertemuan ini tidak dilandaskan oleh kecintaan kepada Allah,Rasulullah dan Al-Qur’an, mungkin tidak akan ada tangis yang pecah. Sudahlah,cukup sekian. Biarlah momen ini abadi dalam tulisan. Semoga Allah meridhoi setiap lagkah yang kita tapaki.


Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall