Jumat, 12 Mei 2017

antara dua kubu


Assalamu’alaykum warahmatullah ...

Lama sekali rasanya tak menghiasi laman ini hehe. Saat ini saya berniat untuk mengutarakan opini saya tentang itu tuh yang masih anget. Ini based on my own perspective ya,kalian boleh setuju boleh juga tidak. Maraknya kasus penistaan agama dan embel-embel nya,membuat saya semakin geram,terlebih banyak juga komentar-komentar sok netral. Lebih parahnya lagi,
sebagian orang malah ikut mengomentari suatu agama tanpa di dasari ilmu. Pihak satu kesal,memulai serangan, pihak lain membalas,lalu dibalas lagi daaaan begitu terus entah kapan akan terhenti.

Saya muslim. Disini,saya hanya ingin menegaskan,khususnya pada kebanyakan muslim,bagaimana mereka harus bersikap terhadap non muslim. Akhir-akhir ini saya banyak menemukan komentar maupun kritikan yang terkesan netral. Entah kenapa saya suka sebel aja kalo baca tulisan orang-orang sok netral. Untuk menghibur diri dan menghidari suudzon terhadap sesama muslim,saya suka bilang ‘oh mungkin dia harus bersikap netral untuk mempertahankan diri’  atau ‘oh mungkin dia berada di lingkungan mayoritas non muslim,jadi harus netral agar tak di musuhi’ dan sedereeet ‘oh mungkin’ yang lain.

Menurut saya,gaada yang namanya ‘netral’ kalo bicara soal hati. Entah bagaimana,jika dihadapkan pada dua pilihan tersulit sekalipun,hati nurani pasti lebih condong kepada salah satunya. Begitupun halnya dalam masalah ini. Berada di kubu penista atau pembela. Itu pilihannya. Sekeras apapun seseorang mencoba menjadi netral diantara dua kubu itu,sungguh,cepat atau lambat orang itu akan memutuskan pilihannya. Percayalah,itu sudah hukum alam. Jika ada yang mengatakan dirinya netral,saya rasa orang itu telah membohongi dirinya sendiri.

Penista atau pembela. siapa yang penista?siapa yang pembela? Berada di kubu mana kah kita? Jawabannya bisa dilihat dari bagaimana pendapat dan sikap anda terhadap masalah ini. Untuk kawan muslim ku,yang masih percaya bahwa Allah Tuhan yang satu,yang masih percaya nabi Muhammad saw adalah utusan Allah,ayolah berfikir lebih jernih. Tak perlulah menunjukan  ‘saya muslim,tapi saya tidak merasa agama saya dihina...’  atau ‘saya muslim dan saya sangat toleransi kalau blabla...’. Jadilah muslim yang memegang teguh keimanan sekalipun ilmu kita masih sangat minim. Tunjukan bahwa ‘saya muslim dan saya berada di barisan orang-orang mukmin’ setidaknya dengan berada di dalam barisan,walaupun bukan yang terdepan,kita tidak akan berakhir menjadi orang sok tahu. Akui saja kalau memang belum tahu, malaikat Atid pun tak mencatat ketidaktahuan sebagai dosa. Jika pun ingin mencaritahu,bertayalah kepada mereka yang juga berada dalam barisan.

Percuma saja membela mereka mati-matian,mereka tetap akan tidak senang dengan kaum muslim. Mereka akan berusaha dengan segenap harta,jiwa dan raga untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam itu sendiri. Seperti yang Allah sampaikan

“orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepadamuhingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : ‘Sesungguhnya Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)’. Dan sesungguhnya,jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepada mu,maka Allah tidak akan lagi menjadi pelindung dan penolong” (QS.Al-Baqoroh : 120)

Islam bagaikan cahaya,tapi sayang cahaya itu kadang tertutup oleh umat Islam itu sendiri. Tak ada paksaan dalam memeluk agama ini. Jadi, semoga kalian telah memutuskan berada di pihak yang mana. Katakanlah yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Setiap apapun pasti akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Seperti halnya sebuah tuisan pun akan dimintai pertanggung jawabannya,maka perhatikanlah kemana pena mu bergerak. Semoga Allah mengampuni saya dan kawan-kawan semua.

“Wahai sekalian orang beriman barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci”.
(QS. Al-Ma’idah: 54).

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall