Minggu, 01 Oktober 2017

The Other Side of PKI

Selamat malam senin. Yak,besok hari senin,hari dimana setiap orang kembali melakukan rutinitas yang tiada habisnya. Kali ini saya ingin sharing tentang yang masih anget-anget nih. Yap, apalagi kalau bukan tentang peristiwa yang terjadi 52 tahun silam,G 30S/PKI. Pada 30 September kemarin,film pengkhianatan G 30S/PKI yang disutradarai oleh bapak Arifin C. Noer diputarkan serentak di masing-masing daerah di Indonesia dan beberapa tempat menggelar nonton bersama atau nobar.

Apasih first impression kalian pas nonton film ini?
takut?dendam?sedih?atau biasa aja?bahkan ada beberapa teman saya sudah takut sebelum menonton filmnya. Seperti yang kita tahu,dalam film ini ada adegan-adegan kekejaman yang dilakukan PKI terhadap dewan jendral,mungkin dibuat seperti itu untuk mendorong kita membenci gerakan komunis yang ingin merusak negara. Saya bukan pengamat film,bukan juga psikolog yang handal membaca gerak-gerik,tapi film ini cukup keren menurut saya.

Kemarin, saya dan beberapa teman seperjuangan mengikuti salah satu kajian yang membahas masalah gerakan PKI itu. Pembahasan yang dibahas disini adalah sisi lain dari G 30S/PKI dan dari film yang dibuat. Apa sisi lain itu?itu adalah sisi intelektual orang PKI. Di balik kekejaman komunis itu,ada orang-orang intelek yang bermain di belakangnya,contohnya seperti D.N Aidit dan Nyoto. Sayangya,dalam film yang diputarkan itu,D.N. Aidit tidak terlihat seperti orang intelek dan peran Nyoto juga tidak terlalu ditonjolkan.

Logisnya,kalau memang semua anggota PKI itu kejam,apakah mungkin ideologi komunis bisa bertahan lama sampai saat ini?. Orang-orang komunis yang dulu memang sudah tidak ada,tapi ideologinya masih terus hidup sampai saat ini. Itu berarti,komunisme sudah berhasil dipelihara dengan cara intelektual.

Ringkasnya,lawan kita saat ini,khususnya umat Islam,adalah ideologi dan cara terbaik untuk melawannya adalah dengan cara intelektual. Sebagai muslim,tidak cukup hanya beriman dan beramal sholeh. Kita juga harus memiliki intelektual yang tinggi sebagaimana Rasulullah saw,para sahabat dan ulama terdahulu. Mereka tidak hanya baik dalam hal ibadah tapi mereka juga berwawasan luas,mengerti politik dan pandai berdiplomasi.

Sangat disayangkan jika muslim saat ini justru seakan tutup mata dan lepas tangan atas apa yang terjadi pada bangsa kita. padahal Allah menunjuk kita,manusia,sebagai khalifah(wakil Allah) di muka bumi ini. Saya mengutip kata-kata seseorang,bahwasannya kezoliman demi kezoliman terus terjadi di muka bumi ini karena kepemimpinan lepas dari tangan umat Islam. Kepemimpinan itu lepas bukan karena mereka sengaja mengambilnya dari kita,hanya saja kita yang sudah tidak lagi layak memimpin.

Pesan ustadz itu,seriuslah dalam melakukan sesuatu. Seriuslah mempelajari musuh seperti halnya mereka juga dengan serius mempelajari Islam untuk mengalahkan kita. Kita tidak kekurangan orang pintar,tapi kita kekurangan orang-orang terlatih. Kalau mereka penganut ideologi kiri saja bisa begitu lihai nya berbicara mempropaganda umat Islam,seharusnya kita bisa lebih baik dari mereka karena ideologi kita berasar dari Tuhan Yang Esa,Allah swt.

Sadarlah kawan,kita ini sedang di serang dari berbagai arah. Kita ini hidup di negara yang dimana agama tidak boleh memipin,tapi ketika ada kerusakan yang disalahkan pasti agama. Kita ini hidup di negara dimana kita boleh melakukan amar ma’ruf tapi tidak boleh nahi munkar. Kesolehan dan kemaksiatan tumbuh bersama.

Tulisan saya diatas merupakan resume dari kajian yang saya ikuti itu. Seperti sebuah tamparan yang keras bagi diri saya,karena saya pun belum bisa berkontribusi banyak untuk bangsa ini. sebenarnya ada satu bahasan lagi yang membuat saya lebih merasa memiliki pancasila dan memiliki Indonesia ini,tapi kali ini saya cukupkan dulu.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall