Senin, 20 November 2017

WHEN SORRY SEEMS TO BE THE EASIEST WORD


خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari  orang-orang yang bodoh. [al-A’raf/7:19

Whoaaaa hari yang melelahkan sekaligus menenangkan. Yap,gue pengen cerita sedikit tentang hari bersejarah yang mengisi 3 tahun gue selama betseragam putih abu abu.

Jadi ceritanya hari ini itu disekolah gue ngerayain hari guru,walaupun ga tepat di tanggal 25 November sih. Nah sama seperti tahun-tahun sebelumnya,biasanya setiap kelas nyiapin surprise gitu buat wali kelas masing-masing. Ada yang berupa setangkai bunga,kue tart dan juga mempersembahkan lagu gitu dah. Hari guru biasanya juga dijadikan momen untuk berterimakasih atas jasa-jasa mereka sekaligus menyampaikan permohonan maaf dari para murid kepada ibu/bapak guru.

Semua berawal dari selepas upacara,semua murid masuk ke kelas masing-masing termasuk amak kelasam gue. Baru sekitar 5 menit kami melepas lelah,wakil ketua kelas kelas gue ngumumin bahwa kami semua harus segera turun ke lapangan. Awalnya gue sendiri juga gatau mau ngapain,trus gue dan beberapa temen gue tetep turun tapi kaki kita melangkah ke kantin bukan ke lapangan haha.

Singkat cerita,setelah dari kantin itu gue balik ke lapangan. Trus ada yang manggil-manggil gue buat ke lapangan,gue dan temen gue yang lagi jalan pun bergegas kesana. Ternyata anak kelasan gue lagi padsa nyanyiin lagu mengililingi sang wali kelas. Di tangan sang guru juga terlihat lukisan yang dibingkai serta satu bucket bunga yang terbuat dari kain flanel. Itu semua hadiah dari anak kelasan. Yaudah gue langsung ikut nimbrung sambil nyengir-nyengir. Tapi saat itu,ada beberapa anak kelas yang ga disitu. Entah kemana..

Trus abis itu gue ama temen gue yang tadi ke mushollah mau sholat dhuha. Selepas sholat,kata temen gue dia di line sama temen gue lain yang ada dikelas bahwa keadaan di kelas lagi kacau. Ada beberapa anak yang marah-marah sampe menimbulkan kekacauan di kelas. Trus gue bergegas kembali ke kelas dan benar saja keadaan di kelas lagi tegang banget. Ada beberapa yang berdiri di depan kelas,ada yang duduk di bangku masing-masing ada juga yang berdiri deket pintu. 

Gue sama temen gue yang baru dateng langsung ngambil tempat di bangku belakang. Gue coba menyimak apa yang sedang terjadi. Ternyata penyebabnya ada beberapa anak yang marah karena ngerasa ga diajak saat prosesi ngasih surprise tadi ke guru. Mungkin terlihat sepele,tapi mungkin faktor hormon remaja usia 17-18 juga mempengaruhi sehingga emosi bertumpah ruah tak terbendung. Benar-benar penampakan yang langka. Saat itu,mereka juga ga tanggung-tanggung mengungkapkan unek-unek mereka yang entah sudah berapa lama menetap di hati mereka. Setiap kalimat yang keluar selalu diiringi isak tangis yang menyayat hati diikuti isak teman-teman lainnya yang menyimak.

Gue yang masih memahami apa yang terjadi,perlahan ikut larut dalam suasana haru. Ada yang berusaha melerai dengan nada penuh kehati hatian. Perlahan keadaan sudah bisa dikendalikan tapi tiba-tiba seseorang memotong pembicaraan dan berkata yang kurang lebih seperti ini " lagian dikelas kita kenapa pada fanatik banget sih sama islam?". Dug,si lawan bicara pun tidak terima dibilang seperti itu dan bergerak dengan penuh emosi tapi segera ditahan sama yang lain. hati gue pun seperti tersayat mendengar kalimat itu. sayatan yang ringan mungkin,akan sembuh tapi membekas. Itu puncaknya menurut gue,yang melerai juga malah terlibat adu mulut. Aduh gue yang ngeliat juga jadi terpancing emosi. Akhirnya gue melangkah ke depan kelas untuk bantu melerai. Setelah reda,perbincangan kembali dilanjutkan. Gue jadi duduk di depan dan gue berniat untuk angkat bicara.

Jujur gue juga agak kesel sama cara temen gue nyampein itu,gue pengen ngelurusin rasanya. Ketika ada kesempatan berbicara,gue pun bicara. Gue coba nyampein apa yang gue rasa perlu untuk disampaikan. Karena dalam suasana yang haru juga,jadi gue gakuat juga buat ga nangis. Gue bilang kalo kita ini,sebaik apapun kita,kita gabisa bikin semua orang suka sama kita. Buat mereka yang nganggep gue dan temen-temen rohis gue rasis atau gimana,gue tegasin bahwasannya kita punya zona nyaman masing2,tapi bukan berarti kita gamau temenan sama yang lain. Kita dididik untuk bisa merangkul sesama. Tentang mereka yang bilang kita fanatik sama islam,gue tegasin juga kalau kalian aja mau dingertiin atas sikap kalian yang begitu,tolong biarkan kita juga nyaman dalam menjalankan perintah Tuhan. Trus gue sampaikan permohonan maaf gue dan temen-temen gue yang lain,karena kita belum bisa jadi temen yang baik.

Hfttt semua yang ada dikelas,yang menyimak kejadian itu,tak kuasa menahan tangis. Isak tangis memenuhi langit kelas kami pagi itu. Sampai untuk berbicara pun rasanya sesak. Tidak ingin berlarut dalam masalah ini,kami semua berjanji untuk makin kompak ke depannya,saling menghargai satu sama lain.

Setelah perbincangan panjang itu selesai,beberapa anak pergi untuk memenugi panggilan perutnya,bebrerapa ada yang ingin menenangkan diri dengan pergi ke sekolah,dan sebagian yang sudah tidak nafsu makan tetap tinggal di kelas. Gue salah satu yang tinggal dikelas. Gue memilih untuk meminta maaf secara pribadi kepada temen-temen yang tadi bermasalah. Setelah itu semua nya saling meminta maaf satu sama lain sambil menyebutkan kesalahan yang pernah mereka buat. Sebuah pemandangan yang sangat menenangkan. Walau bukan dalam bulan ramadhan ,juga bukan lebaran,kata maaf dengan mudah keluar dari lisan-lisan insan yang baru saja dilanda emosi.

Sebuah kejadian yang perlu diabadikan menurut gue,namun sayang tak ada yang mengabadikannya lewat gambar. Maka gue mencoba mengabadikan kejadian itu melalui tulisan ini.

Gue bersyukur atas kejadian ini. Menurut gue,ini adalah salah satu cara untuk mendewasakan diri. Di usia yang memang masih labil dan emosional yang tinggi,tampaknya masalah pertemanan seperti ini wajar saja. Gue pun banyak belajar dari kejadian ini. Belajar untuk lebih bisa merangkul yang lain,belajar untuk melawan ego yang berkecamuk didalam diri,belajar berani untuk berkata 'maaf' dan yang terpenting belajar untuk memaafkan orang lain.

bagi gue saat ini,memaafkan orang lain itu lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri. tak ada yang lebih sakit dari memaki diri,melecut ego agar tak menguasai diri.Sungguh Al-Quran adalah obat dari setiap luka. Jiakalau ia tiada,pasti sudah porak-poranda hati ini.


مَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran/3:159]

لَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134]

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall