Selasa, 19 Desember 2017

SANG PENAKLUK AL QUDS PART 1

Penaklukan Al Quds Pada Zaman Khalifah Umar Bin Khattab RA
masjid Al Aqsa pada masa khalifah Umar bin Khathab

Bermula dari sebuah perang yang diberi nama perang Ajnain,yaitu perangantara kaum muslimin yang saat itu dimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah dibawah kekhalifahan Umar bin Khathab dengan pasukan Romawi yang dipimpin oleh panglima Arthabun.



Ketika perang Ajnadin meletus, banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Hal ini membuat Arthabun panglima Romawi terkejut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kaum muslimin adalah tentara yang tangguh. Akhirnya ia melarikan diri menuju Al-Quds untuk berlindung di wilayahnya dan tanahnya yang suci. Wilayah ini diperkirakan menjadi sasaran kaum muslimin berikutnya, karena kecintaan mereka untuk memasukinya dengan harga berapapun.

Ketika Amr bin Ash ra mengetahui kejadian itu, ia dan pasukannya segera berangkat dari Syam dan bergabung dengan pasukan Abu Ubaidah bin Jarrah. Lalu mereka mengepung Al-Quds untuk menutup celah bagi pasukan Romawi yang datang dari luar. Setelah itu pasukan muslimin bertolak menuju pelabuhan Qaisariyah, yaitu pelabuhan yang menyambut kapal-kapal Romawi yang membawa bala bantuan dari Roma dengan menyeberangi laut Tengah.

Lalu pertempuran meletus antara kaum Muslimin dan Romawi di Qaisariyah. Di dalamnya seratus ribu tentara Romawi tewas terbunuh. Qaisariyah terletak di utara Palestina. Pada saat itu Gaza berada di bawah kekuasaan kaum muslimin sejak kekhalifahan Abu Bakar Ash Shidiq ra

Menjelang perang Yarmuk, Umar bin Khattab menggantikan tampuk pimpinan pasukan Islam di Syam dari Khalid bin Walid kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Namun Abu Ubaidah tidak mau memberitahukan kepada Khalid serta mereka sampai ia mengetahui sendiri berita itu. Saat Khalid tahu berita itu, ia menegur Abu Ubaidah padahal kekuasaan itu kini di tangannya. Abu Ubaidah mengatakan kepada Khalid, “kekuasaan dunia bukan yang aku inginkan, bukan untuk dunia aku beramal. Kita semua sesungguhnya adalah dua saudara yang menegakkan kebenaran atas perintah Allah.” Ini menunjukkan bahwa mereka paham benar misin peperangan bukan untuk dunia tapi semata-mata menegakkan agama Allah.

Ada peristiwa menarik menjelang perang Yarmuk. Komandan sayap kiri pasukan Romawi, Darnajar mengirim mata-mata ke barisan umat Islam. Setelah tinggal selama satu malam, mata-mata itu melaporkan kepada komandannya,

“saya menemukan kaum yang bangun malam untuk shalat semuanya, siang hari mereka berpuasa, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaran, seperti rahib di malam hari dan singa di siang hari. tak ada yang mencuri di antara mereka kecuali tangannya dipotong, jika ada yang berzina, mereka merajamnya karena lebih mementingkan kebenaran.”

Maka Darnajar mengatakan, “jika benar yang kamu katakan, perut bumi lebih baik – bagi orang yang memerangi mereka – dibanding permukaannya.”

Perang Yarmuk pun meletus pada Senin, 5 Rajab 15 H (Agustus 636). 120 ribu pasukan artileri, ditambah 80.000 pasukan berkuda Romawi bertemu dengan 36.000 pasukan Islam. Abu Ubaidah berkeliling di tengah-tengah pasukan Islam berpesan, 

“tolonglah Allah, Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki-kaki kalian. Janji Allah pasti benar, umat Islam sabarlah karena kesabaran itu menyelamatkan.” 

Orasi juga disampaikan oleh Muadz bin Jabal, Amr bin Al-Ash. Perang berkecamuk dan umat Islam bertahan di tengah gempuran pasukan Romawi. Ratusan ribu pasukan Romawi tewas dan sisasnya melarikan diri. Sementara sekitar 3000 pasukan islam gugur syahid dalam perang menentukan ini.

Setelah Umat Islam memperoleh kemenangan di perang Yarmuk, Abu Ubaidah memerintahkan Khalid bin Walid untuk keluar menuju Homs, sedang Abu Ubaidah menggerakan pasukan mujahidin ke Damaskus. Dengan izin Allah, seluruh komandon berhasil membersihkan daerah dari tentara Romawi dan pengikut mereka, maka tidak tersisa di depannya selain pembebabasan Al-Quds.

Abu Ubaidah Al Jarrah mengepung Baitul Maqdis selama 6 bulan. Perjuangan mereka tak sia-sia. Saat itu, udara dingin musim semi April tahun 637, menjadi saksi bahwa umat Islam akhirnya dapat bersujud tenang di Al Aqsa. Penjaga kunci kota Al Quds, Pendeta Sophronius mensyaratkan tidak akan menyerahkan kunci kecuali jika Khalifah Umar bin Khattab yang datang langsung menerima penyerahan darinya.

to be continued...

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall