Berapa banyak diantara kita yang senang melakukan kebaikan?berapa banyak dari kita yang berusaha untuk menjadi salih(ah)?tapi,benarkah ingin menjadi sholeh atau malah hanya ingin terlihat salih?
Salih الصلاح memiliki arti (perbaikan) atau pengertian sederhana nya misal,laki – laki yang shalih terhadap dirinya,dia memperbaiki amalannya dan urusan-urusannya. Sebagaimana disebutkan didalam kitab:”al’ain”, oleh Al khalil bin Ahmad Rahimahullah (2/406).Dan berkata al qadhi ‘iyadh di dalam (masyariqul anwar. 2/44):
” Laki-laki yang shalih adalah yang menegakkan apa-apa yang menjadi kewajibannya dari hak-hak Robbnya dan beribadah kepada-Nya."
Saya yakin setiap diri kita pasti ada rasa ingin menjadi seorang yang salih,seorang yang selalu berusaha untuk memperbaiki diri baik dalam hal ibadah kepada-Nya ataupun dalan urusannya kepada manusia. Bukan hal baru ketika kita menjumpai banyak orang salih tapi tak berdaya guna. Artinya ia hanya salih untuk dirinya sendiri saja tapi tidak bermanfaat bagi orang lain. Sulit untuk dinafikkan memang,saya pun terkadang begitu. Kita sibuk ibadah ini itu,dateng kajian sana sini,dakwah syiarkan kebaikan tapi malah lupa merangkul orang-orang yang butuh dirangkul,terutama orang-orang disekitar kita sendiri.
Muncul pertanyaan,sudah se-bermanfaat apakah diri ini bagi umat?terutama di dunia nyata. Karena faktanya,kebanyakan kita ini rajin sekali memposting atau merepost nasihat-nasihat di dunia maya tapi action nya nol di dunia nyata. Bukan,bukan salah kita posting nasihatnya. Salahnya karena kita kurang memperhatikan kerja kita buat umat di dunia nyata. Kita seringkali lupa,bahwa diluar sana masih banyak juga sodara-sodara kita yang ga punya gadget,yang gapunya instagram dsb. Bagaimana dakwah kita bisa sampai ke mereka kalau bukan via dunia nyata?Coba deh perhatiin lagi sekitar kita. Jangan sampe kita rajin sholat,rajin ngaji tapi orangtua/sodara/tetangga kita malah banyak yang sholatnya belum bener dan buta huruf alquran. Saya ingin cerita pengalaman yang menyadarkan saya dan akhirnya lahirlah tulisan ini.
Sudah 4 bulan terakhir ini saya ngajar private tahsin Quran anak di beberapa rumah. Kali ini tempat saya ngajar lebih berada orang-orangnya dibanding sebelum2nya. Jadi mukafaah yang mereka berikan ke saya juga bisa dibilang cukup besar. Saya tidak pernah memberi tarif saat mengajar,baik itu mengajar Al-Quran atau ilmu pengetahuan lainnya. Karena bagi saya,mengajar itu proses mengulang dan melengketkan ilmu yang sudah saya miliki. Kalo soal amplop itu bonus dari Allah,bahkan seringkali Allah membayar saya langsung dengan apa yg saya butuhkan. Saya nyaman2 saja ngajar disitu.
Sampai suatu ketika,saya mendengar kabar bahwa ada kelas belajar baca quran untuk anak-anak di belakang rumah saya yang diajar oleh salah seorang ibu yang saya perkirakan usianya sudah berkepala empat. Tempat yang dipakai itu adalah rumah si ibu. Mendengar kabar tsb,saya jadi senang sekaligus sedih. Senang karena masih ada orang yang perduli walaupun penuh dgn keterbatasan. Sedih karena saya merasa mampu tapi tidak berdaya guna untuk membantu. Timbul pertanyaan,kenapa saya lebih rela mengajar private di jauh sana,sementara di sekitar rumah ada yang perlu untuk diajarkan juga?apakah ini sebab ada atau tidaknya mukafaah?saya bener2 merasa sedang diuji dalam hal keikhlasan. Segera saya koreksi niat saya dalam mengajar dan mohon ampun sama Allah.
Setelah kejadian itu,saya merenung cukup lama tentang apa yang harus saya lakukan sekarang. Ada banyak hal yang saya pertimbangkan,salah satunya adalah tanggung jawab yang lebih besar sebagai pelajar SMA tingkat akhir dan juga tanggung jawab kepada murid private saya. Akhirnya dengan bismillah saya coba ambil keputusan untuk ikut mengajar di tempat ibu itu tapi hanya di hari2 tertentu. Sempat ragu lagi tapi..ah Allah pasti bantu,batin saya.
Kisah saya tadi rasanya seperti tamparan dari Allah,bahwa sudah semestinya orang2 berilmu itu mengamalkan ilmunya,dimulai dari orang2 terdekat disekitar kita. Tapi sepertinya,kesadaran untuk berbagi dan membina itu belum sepenuhnya dimiliki oleh orang salih. Contoh simpelnya saya lagi deh.
Disekolah ada program mentoring wajib gitu buat kelas 10. Dan yang menjadi murobbi/murobbiyah nya itu semestinya alumni. Tapi seiring berjalannya waktu, jumlah alumni yg hadir semakin tak menentu. Alhasil kelas 12 mantan rohis lah yang diminta bantu mengisi,termasuk saya. Bukan hal sulit sebenarnya untuk mengisi mentoring adik-adik kelas 10. Karena sejatinya mentoring tidak melulu soal materi tapi juga tentang kesatuan hati antar menti dan murobbi. Saya dan temen2 kelas 12 InsyaAllah sudah tahu itu. Tapi realita tak selalu seindah kata-kata mutiara. Ada saja sebagian dari kami yang beralasan agar tidak ikut mengisi mentoring adik-adik.Lelah seringkali jadi alasan.Padahal dulu,dakwah Rasulullah saw. pun dipenuhi keringat bahkan darah. Jadi, pantaskah lelah dijadikan alasan untuk keluar dari tanggung jawab dalam berdakwah?
Terakhir,tetaplah berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik tapi jangan lupa untuk terus berbagi dan menebar manfaat. Jangan sampai kita menjadi orang-orang salih yang tak berdaya guna. Surga itu terlalu luas untuk dihuni sendiri brader. Maka ajaklah keluarga dan sahabat dunia kita untuk bersama-sama menapaki jalan menuju surga-Nya. Sebagai penutup,ada salah satu ayat favorit saya yang memotivasi saya untuk tak kenal lelah mengajak keluarga dan sahabat dalam hal kebaikan. Semoga bermanfaat.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan"(QS.At-tahrim:6)
Tidak ada komentar
Posting Komentar