Jumat, 09 Maret 2018

FANATIK

Rasanya telinga kita sudah tak asing dengan kata yang satu ini. Orang-orang dewasa ini sangat mudah melabelkan suatu kelompok dengan kata 'fanatik'. Fanatik ialah orang yang keras mempertahankan pendirian,benci kepada orang yang berbeda pendirian. Dengan pengertian itulah,seringkali orang dengan sengaja mengartikan kata fanatik dari segi negatif. Padahal,jika kita mau melihat lebih jauh,tentu kita akan melihat sisi positif dari kata fanatik ini. 



Kata fanatik dikeluarkan oleh penjajah setelah mereka menjajah negeri-negeri Islam. Belanda masuk ke Indonesia,Inggris ke India,Perancis ke Afrika dan beberapa negara lain di kawasan timur tengah. Meskipun negeri-negeri kaum muslim dijajah,itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk melawan dan mengusir penjajahan dari tanah mereka. Siang malam mereka melawan,dengan segala upaya dan senjata seadanya.

Ribuan nyawa kaum muslim melayang setiap harinya. Jasad mereka ditumpuk bagai bangkai hewan di pembuagan. Tapi mereka terus saja melawan. Tak ada ampun bagi penjajah,sekalipun mereka mengalami kekalahan yang telak.

Siasat demi siasat dirancang para penjajah untuk musnahkan kaum muslim. Tapi tetap saja mereka masih benci terhadap parapenjajah itu. Di beberapa negara bahkan ada yang menawarkan umat islam agar jual agama nya demi jabatan dan kekuasaan dan halitu pun membuat umat Islam semakin membenci mereka. Oleh sebab itulah para penjajah lantas mencap kaum muslim yang melawan itu sebagai kaum “fanatik”.

Setelah negeri-negeri Islam itu merdeka,penjajah memang sudah pergi tapi mereka meninggalkan pusaka-pusaka sebagai alat untuk balas dendam. Contohnya di negara kita ini,Indonesia. Belanda meninggalkan kata “fanatik” yang sekarang ini timbul tuduhan dengan kalimat “Umat Islam Indonesia masih saja fanatik”

Kalau kita masih saja menyebut halal-haram dalam negeri ini,masih juga membicarakan apa yang benar dan apa yang salah menurut keyakinan kita,pastilah kita akan dituduh fanatik.

Kalau ada khatib atau dai yang mengingatkan bahaya perjudian,riba ataupun tentang perempuan yang berbaju minim,pastilah dai itu akan disebut fanatik. Tuduhan fanatik itu makin hari makin deras saja,tak terelakkan pula dalam pemerintahan.

Rapat dinas sengaja dimulai pukul lima petang. Hingga waktu maghrib tiba,tapi rapat masih saja diteruskan. Kalau ada orang yang izin untuk pergi sholat,maka ia akan dituduh fanatik.
Kalau ada suara imam membaca Al-Qur’an di masjid dengan sambungan mikrofon,lalu ada tetangga masjid yang tidak suka,maka yang membaca Al-Qur’an yang akan dituduh fanatik. Sedang orang yang tidak suka mendengar suara al-quran itu tidak dituduh fanatik,padahal ia benci suara agama.

Zaman sekarang kalau ada perempuan-perempuan berjilbab lebar atau mengenakan cadar,mereka akan dituduh fanatik. Sedang mereka yang menggunakan mini skirt,tak ada yang menuduhnya fanatik.

Maka bagi kalian yang lemah imannya,tidak akan sanggup dituduh sebagai orang fanatik. kalian akan jual agamanya sedikit demi sedikit supaya mereka tidak dikatakan fanatik. Inilah yang terjadi di negeri kita sekarang. Dan untuk kalian yang masih ada rasa tanggung jawab agamanya di sudut dada. Takutkah kalian dituduh sebagaiorang fanatik?kalau takut,lebih baik berhenti menjadi orang Islam. Islam itu terikat dengan prosedur,maka itu yang menyebabkan kita menjadi fanatik.

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(QS.At-Taubah:24)

Ayat diatas jelas menyuruh kita untuk memiliki pendirian. Meletakkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya diatas segala cinta. Karena tidak ada peraturan yang lebih baik selain peraturan Allah.

“Yaa Allah! Kalau karena cinta kepada-Mu dan Rasul-Mu,bercita-cita agar hukum-Mu berjalan dalam dunia ini,klau karena berani menentang segala yang batil,kalauitu yang dikatakan fanatik,perdalamlah Yaa Allah rasa fanatik itu dalam jiwa kami. Matikan lah kami dalam membuktikan cinta kepada Engkau.”
(Buya Hamka)

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu bab dalam buku yang berjudul Dari Hati ke Hati karangan Prof.Dr.Hamka

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall