Rabu, 17 Juli 2019

HAJI AGUS SALIM, THE GRAND OLD MAN





Kesederhanaan adalah parfum para pemimpin. Kharisma mereka justru muncul lewat kesederhanaan ; in manner, in character, in style, in all things, simplicity is the glory of leadership.

Perkenalkan, seorang tokoh besar, pahlawan kemerdekaan Indonesia. Ikon kesederhanaan dalam berjuang : Haji Agus Salim
Prof. Schermerhon, perdana menteri Belanda (1945-1946) pernah berkata tentang siapa Haji Agus Salim.

“orangtua yang sangat pandai ini adalah seorang jenius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu, beliau hidup melarat”

Lahir di Sumatra Barat 8 Oktober 1884. Buah hati pasangan Soetan Salim & Siti Zainab ini membawa nama “Mashudul Haq” yang artinya menyerupai takdir kepahlawanannya, “pembela kebenaran”

Memulai pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS). Lulus dari ELS, Agus Salim dikirim ke sekolah elit Eropa Hoogore Burger School (HBS) di Batavia. HBS adalah sekolah tinggi lanjutan yang disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan pribumi atau tokoh terkemuka.Tidak semua orang berkesempatan bersekolah di HBS. Tes masuknya tidak main-main. Agus Salim,salah satu tokoh jenius yang pernah dilahirkan di Indonesia, berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.



Kiprahnya tak sebatas merebut kemerdekaan. Di kabinet, Agus Salim sering dipercaya  menjadi menteri LN. 1946-1947 kabinet Sjahrir. 1947-1948 kabinet Sjarifudin. 1948-1949 kabinet Hatta. Kemahiran orasi dan debat Haji Agus Salim sekaligus kemampuan menguasai 9 bahsa asing, mentahbiskan beliau sebagai diplomat no. 1 Indonesia. Beliau dikenal sebagai singa podium.

Anda ingat tentang lelucon kambing yang terkenal itu?Saat itu, Agus Salim sebagai pemimpin SI bersama HOS Cokroaminoto naik ke mimbar. Tak berselang lama,hadirin mengejek tampilan beliau, “mbeek, mbeek” ejek hadirin terhadap tampilan khas Agus Salim yang berkopiah dan berjanggut. Agus Salim yang cerdas tak tinggal diam.

Beliau lalu mengangkat tangan dan berkata, “tungu sebentar,bagi saya sungguh hal yang menyenangkan bahwaa kambing-kambing turut hadir untuk mendengar pidato saya.”

“Hanya sayang sekali mereka kurang mengerti bahasa manusia. Jadi saya sarankan agar sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk makan rumput di lapangan. Setelah pidato saya ini yang ditujukan untuk manusia selesai, mereka dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahsa kambing khusus untuk mereka. Karena bagi kambing pun ada pidatonya. Dan saya menguasai banyak bahasa.” Tutup Agus Salim dengan cerdas.beberapa hadirin tertawa. Muka yang mengejek merah padam.



Ah betul kata Thomas Carlyle, sejarawan besar asal Skotlandia itu, 
“The history of the world is the biography of Great Man”


~ Dikutip dari buku Leiden is Lijden karya Dea Tantyo

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Andromeda Nida
Maira Gall