Kesederhanaan adalah parfum para pemimpin.
Kharisma mereka justru muncul lewat kesederhanaan ; in manner, in character, in
style, in all things, simplicity is the glory of leadership.
Perkenalkan, seorang tokoh besar, pahlawan
kemerdekaan Indonesia. Ikon kesederhanaan dalam berjuang : Haji Agus Salim
Prof. Schermerhon, perdana menteri Belanda
(1945-1946) pernah berkata tentang siapa Haji Agus Salim.
“orangtua yang sangat pandai ini adalah seorang jenius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu, beliau hidup melarat”
Lahir di Sumatra Barat 8 Oktober 1884. Buah
hati pasangan Soetan Salim & Siti Zainab ini membawa nama “Mashudul Haq”
yang artinya menyerupai takdir kepahlawanannya, “pembela kebenaran”
Memulai pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS). Lulus
dari ELS, Agus Salim dikirim ke sekolah elit Eropa Hoogore Burger School (HBS) di Batavia. HBS adalah sekolah
tinggi lanjutan yang disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan pribumi atau
tokoh terkemuka.Tidak semua orang berkesempatan bersekolah di HBS. Tes masuknya
tidak main-main. Agus Salim,salah satu tokoh jenius yang pernah dilahirkan di
Indonesia, berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
Kiprahnya tak sebatas merebut kemerdekaan. Di
kabinet, Agus Salim sering dipercaya menjadi
menteri LN. 1946-1947 kabinet Sjahrir. 1947-1948 kabinet Sjarifudin. 1948-1949
kabinet Hatta. Kemahiran orasi dan debat Haji Agus Salim sekaligus kemampuan
menguasai 9 bahsa asing, mentahbiskan beliau sebagai diplomat no. 1 Indonesia.
Beliau dikenal sebagai singa podium.
Anda ingat tentang lelucon kambing yang
terkenal itu?Saat itu, Agus Salim sebagai pemimpin SI bersama HOS Cokroaminoto
naik ke mimbar. Tak berselang lama,hadirin mengejek tampilan beliau, “mbeek,
mbeek” ejek hadirin terhadap tampilan khas Agus Salim yang berkopiah dan
berjanggut. Agus Salim yang cerdas tak tinggal diam.
Beliau lalu mengangkat tangan dan berkata,
“tungu sebentar,bagi saya sungguh hal yang menyenangkan bahwaa kambing-kambing
turut hadir untuk mendengar pidato saya.”
“Hanya sayang sekali mereka kurang mengerti
bahasa manusia. Jadi saya sarankan agar sementara mereka tinggalkan ruangan ini
untuk makan rumput di lapangan. Setelah pidato saya ini yang ditujukan untuk
manusia selesai, mereka dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato
dalam bahsa kambing khusus untuk mereka. Karena bagi kambing pun ada pidatonya.
Dan saya menguasai banyak bahasa.” Tutup Agus Salim dengan cerdas.beberapa
hadirin tertawa. Muka yang mengejek merah padam.
Ah betul kata Thomas Carlyle, sejarawan besar
asal Skotlandia itu,
“The history of the world is the biography of Great Man”
~ Dikutip dari buku Leiden is Lijden karya Dea Tantyo



Tidak ada komentar
Posting Komentar