Setelah sekian lama
menghilang dari dunia per-blog-an, saya kembali dan kali ini pengen bikin review
salah satu buku keren yang belom lama saya baca. Yap seperti cover
yang tertera diatas,buku yang akan saya review adalah salah satu buku karya Dr.
Adian Husaini dengan judul Kemi.
SINOPSIS
Secara garis besar,buku
trilogi Kemi ini menceritakan tentang dua orang santri yang memiliki kecerdasan
luar biasa. Mereka juga merupakan santri andalan di pondok pesantren yang dimpimin
oleh Kyai Rois. Dengan di iming-imingi beasiswa oleh salah satu alumni pondok
bernama Farsan,Kemi pergi ke Jakarta dengan alasan ingin mencicipi lingkungan
belajar baru diluar pesantren.
Kepergian Kemi ke Jakarta
benar-benar telah merubah hidup Kemi. Pergaulan bebas yang dimasuki Kemi telah
berhasil merubahnya menjadi seorang yang jauh dari Islam. Kecerdasannya
dimanfaatkan oleh para oknum penyebar paham liberalism,pluralism dan
sebagainya. Kemi pun lama-kelamaan terlibat dalam proyek-proyek besar penyebaran
paham liberalism. Rahmat yang juga merupakan santri teladan di pondok merasa
ada yang tidak beres ketika mengetahui siapa yang membawa Kemi ke Jakarta.
Singkat cerita,Rahmat
ditantang oleh Kemi untuk masuk ke dunianya dengan tetap mempertahankan
keimanan dan keislamannya. Rahmat merasa tertantang dan mohon izin kepada kyai
untuk pergi dari pesantren. Dengan berat hati,kyai Rois mengizinkan Rahmat
untuk ikut masuk ke dunia Kemi dengan tujuan menyelamatkan Kemi dari jeratan
kaum liberal. Bagi Rahmat,ini merupakan tugas berat karena iman yang jadi
taruhannya.
Di kampus,Rahmat terkenal
karena bantahan-bantahan logis nya tentang paham liberal. Sampai pernah suatu
ketika,dalam ruang diskusi,Rahmat mematahkan semua argument yang dikemukakan
oleh seorang kyai liberal. Dan ketika diskusi berakhir,sang kyai merasa Allah
sedang mengingatkan dirinya melalui Rahmat atas segala kekeliruan paham yang ia
yakini. Tapi saat itu juga,sang kyai liberal tersebut tak sadarkan diri dan
menjemput ajalnya. Setelah adanya diskusi itu,banyak tertulis headline berita
“Kyai meninggal setelah didebat mahasiswanya”
REVIEW
Novel trilogy yang
ditulis oleh Dr. Adian Husaini ini menampilkan alur yang sangat mudah dipahami
dan tidak berbelit-belit. Investigasi kasus yang sering dilakukan oleh para
tokoh-tokoh dalam novel ini juga mengajak pembaca untuk berpikir krtis dan
berani dalam memperjuangkan kebenaran. Diskusi dan dialog para tokoh juga
menjadi keseruan tersendiri karena dari situlah pembaca akan mendapatkan banyak
wawasan baru,meskipun dalam beberapa dialog terdapat kata yang kasar dan Bahasa
yang tinggi. Dr.Adian juga sangat piawai menyampaikan pesan yang sarat akan
makna tanpa terkesan menggurui atau menghakimi.
Tanpa menanggalkan unsur
faktualitas dan keabsahan logika yang dipaparkan, pembaca diajak untuk ikut
mengarungi perjuangan para tokoh dalam menangkal pemikiran para penggiat
Liberalisasi di Indonesia yang pada nyatanya berkeliaran disekitar kita sadar
ataupun tidak.
Kesimpulan akhirnya novel
Kemi ini seperti kumpulan obrolan para cendikia,yang sarat dengan argument
retoris. Novel ini dapat dibaca oleh semua kalangan,baik dari kalangan awam
ataupun kalangan intelek. Novel ini juga sangat saya rekomendasikan bagi para
mahasiswa karena memang biasanya di dunia kampuslah kita akan mendapati banyak
perbedaan paham.

Tidak ada komentar
Posting Komentar