Minggu, 19 Mei 2019

#Tahfizh Weekend

Assalamualaykum warahmatullah

Haiiii gaisss,how was your Ramadhan?udah mau masuk hari ke-15 nih,coba cek target yang sudah kalian buat di awal Ramadhan,sudah banyak yang tercapai kah?semoga Ramadhan kali ini bisa menjadi ajang untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik ya.

Alhamdulillah Ramadhan kali ini gue masih diberi kesempatan untuk ikut semacam dauroh Quran,meskipun durasi dauroh ini lebih singkat dari yang biasanya gue ikutin. Tahfizh Weekend,seperti namanya,dauroh ini diadakan hanya diakhir pekan. Dimulai sejak jumat malam sampai ahad siang.
Salah satu hal yang menyenangkan ketika ikut kegiatan semacam ini adalah menambah jaringan pertemanan. Yap,disana gue kenalan sama temen-temen baru yang hebat MasyaAllah. Peserta mayoritas adalah pekerja kantoran dan mahasiswa. Salut banget sama mereka yang kerjanya luar biasa sibuk tapi tetep berusaha luangin waktu khusus untuk bisa intensif bersama Al-Quran.

Nah kali ini gue pengen berbagi sedikit motivasi tentang Quran dari kajian yang diselenggarakan oleh Tahfizh Weekend. Ada 2 kajian dan InsyaAllah gue akan paparkan sedikit inti dari materi yang berhasil gue rekam dengan catatan. Alasan gue mau sharing ini sebagai self reminder buat gue pribadi dan juga temen-temen yang mungkin juga ingin fokus terhadap Al Quran.

Kajian 1
Hidup Dibawah Naungan Al-Quran
Ust. Nur Fajri Ramadhan

Dalam menjalani kehidupan ini kita harus selalu berusaha keras untuk dapat memeras waktu. Artinya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan potensi untuk beramal saleh dalam keseharian.

Usia adalah salah satu yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Usia kita dipakai untuk apa,terutama masa muda kita.  Masa muda mestinya jadi waktu terbaik untuk melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya. Karena potensi kekuatan fisik maupun pikiran sangat besar ketika usia muda. Maka jika masa muda kita tidak dipakai untuk menghafal Al-Quran,itu sama saja kufur terhadap nikmat masa muda.

Usia dan kemampuan seseorang dalam menghafal ibarat sebuah piramida tegak. Artinya semakin kecil usia seseorang maka semakin besar pula kemampuan menghafalnya. Usia yang baik untuk mulai menghafal adalah kisaran 4-23 tahun. 23 tahun itu sudah maksimal banget. Jadi bagi yang masih muda dan berniat untuk menghafal quran,usahakan selesaikan hafalan sebelum usia 23 tahun.

Sedangkan kemampuan seseorang dalam memahami adalah kebalikan dari menghafal. Semakin bertambah usia seseorang,maka kemampuan memahami juga akan semakin baik.

Sebaik-baik kiat dalam menghafal Al-Quran adalah dengan memperkuat “WHY?”

Kenapa ingin menghafal Quran?
  • Meneladani Rasulullah saw.
  • Meneladani sahabat,tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Merupakan aib di kalangan tabi’in jika seseorang sudah memasuki usia 2 digit (>9 thn) tapi belum hafal quran. Quran adalah yang pertama kali dihafal sebelum menghafal ilmu lainnya seperti hadits dll. Contohnya Imam Syafi’i,beliau hafal Quran usia 7 tahun,baru kemudian mendalami fiqih.
  •  Karena ada perintah untuk menghafal Quran (Qs. Al-Baqoroh:63)
  •  Karena menghafal Quran adalah jebakan untuk terus berquran seumur hidup. Maksudnya menghafal itu hukumnya fardhu kifayah sedangkan menjaga hafalan hukumnya fardhu ain. Ijma ulama menyebutkan bahwa melupakan hafalan termasuk dosa besar. Jadi mereka yang memilih untuk menghafal Quran secara otomatis akan masuk pada kubangan murojaah yang dimana kita takkan bisa lari darinya.
  • Banyak sekali keutamaan menghafal Quran. (InsyaAllah akan dibahas pada tulisan yang lain)
Kajian 2

BerQuran ditengah kesibukkan
Muhammad Farras Muhadzdzib

Di kajian kedua ini,lebih ke sharing pengalamannya bang Farras. Karena gue terlalu asyik dengerin kisah beliau,jadi gabanyak yang gue catet. Hanya quotes-quotes gitu sih yang gue catet.

  •    Ketika Allah memberikan kekurangan,Allah juga pasti akan     menghadirkan kelebihan. So fokus sama kelebihan yang kita punya   dan terus berusaha perbaiki diri.
  •      Perbanyak syukur dari hal-hal kecil. Karena jika hal kecil saja tidak   bisa kita syukuri,maka kita tidak akan bisa mensyukuri hal yang lebih   besar
  •          Ini bagian cerita bang farras yang gue suka karena gue sendiri pernah   ngerasain. Ketika belum lama memasuki karantina Quran,beliau jatuh   sakit. Diare,demam,migran dsb datang bersamaan. Lalu ada temen   beliau yang dateng bantu mijitin sambil bilang
   “Bang, ngafal Quran   itu jangan pake otak,gaakan kuat,nanti otak kita pecah. Gunung aja  ga sanggup dikasih quran. Ngafal tuh pake ini (nunjuk hati)”
  •   disitu bang farras merasa tertampar. Baru sadar mungkin di awal memang ada kesombongan yang merasa dirinya kaum intelektual,sehingga akan lebih mudah dalam menghafal. Padahal nyatanya tidak.
  •   Ketika kita menjaga Quran,Allah sendiri yang akan menjamin kehidupan kita
  •     Jika kalian beralasan sibuk sehingga tidak bisa menghafal,maka secara tidak langsung kalian mengatakan bahwa para penghafal quran adalah pengangguran. Padahal kenyataannya,tidak ada penghafal quran yang kerjaannya nyantai-nyantai. Mereka adalah orang-orang yang mengambil peran dimanapun mereka berada. Hari-harinya dipenuhi oleh serangkaian aktifitas yang juga sama dengan oranglain pada umumnya. Sekolah,kuliah,kerja,berumah tangga dll.
 "Luangkan hatimu untuk Quran, maka Allah akan luangkan waktumu"

Sekian sharing kali ini. Semoga bermanfaat dan bisa menambah motivasi kita dalam menghafal Quran. Kalo kalian,punya carita seru apa Ramadhan kali ini?yuk cerita di kolom komentar.

5 komentar

  1. Masyaa Allah,tabarakallah. Sering sering yah nulis tentang kisah atau cerita perjuangan seseorang untuk berusaha jadi hamba yang taat, jadi motivasi banget. Ditunggu next stories nya, jazakillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap InsyaAllah. Makasih sudah mau mampir hehehe😊

      Hapus
  2. Terimakasih motivasi nya, semoga bermanfaat untuk yg membaca, aamiin

    BalasHapus

© Andromeda Nida
Maira Gall