Assalamualaykum warahmatullah
Haiiii gaisss,how was
your Ramadhan?udah mau masuk hari ke-15 nih,coba cek target yang sudah kalian buat
di awal Ramadhan,sudah banyak yang tercapai kah?semoga Ramadhan kali ini bisa
menjadi ajang untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik ya.
Alhamdulillah Ramadhan kali
ini gue masih diberi kesempatan untuk ikut semacam dauroh Quran,meskipun durasi
dauroh ini lebih singkat dari yang biasanya gue ikutin. Tahfizh Weekend,seperti
namanya,dauroh ini diadakan hanya diakhir pekan. Dimulai sejak jumat malam
sampai ahad siang.
Salah satu hal yang
menyenangkan ketika ikut kegiatan semacam ini adalah menambah jaringan pertemanan.
Yap,disana gue kenalan sama temen-temen baru yang hebat MasyaAllah. Peserta mayoritas
adalah pekerja kantoran dan mahasiswa. Salut banget sama mereka yang kerjanya
luar biasa sibuk tapi tetep berusaha luangin waktu khusus untuk bisa intensif
bersama Al-Quran.
Nah kali ini gue pengen
berbagi sedikit motivasi tentang Quran dari kajian yang diselenggarakan oleh
Tahfizh Weekend. Ada 2 kajian dan InsyaAllah gue akan paparkan sedikit inti
dari materi yang berhasil gue rekam dengan catatan. Alasan gue mau sharing ini
sebagai self reminder buat gue pribadi dan juga temen-temen yang mungkin juga
ingin fokus terhadap Al Quran.
Kajian 1
Hidup Dibawah Naungan Al-Quran
Ust. Nur Fajri Ramadhan
Dalam menjalani kehidupan
ini kita harus selalu berusaha keras untuk dapat memeras waktu. Artinya berusaha
semaksimal mungkin memanfaatkan potensi untuk beramal saleh dalam keseharian.
Usia adalah salah satu
yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Usia kita dipakai untuk
apa,terutama masa muda kita. Masa muda
mestinya jadi waktu terbaik untuk melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya. Karena
potensi kekuatan fisik maupun pikiran sangat besar ketika usia muda. Maka jika
masa muda kita tidak dipakai untuk menghafal Al-Quran,itu sama saja kufur
terhadap nikmat masa muda.
Usia dan kemampuan seseorang
dalam menghafal ibarat sebuah piramida tegak. Artinya semakin kecil usia
seseorang maka semakin besar pula kemampuan menghafalnya. Usia yang baik untuk
mulai menghafal adalah kisaran 4-23 tahun. 23 tahun itu sudah maksimal banget. Jadi bagi yang masih muda dan berniat untuk
menghafal quran,usahakan selesaikan hafalan sebelum usia 23 tahun.
Sedangkan kemampuan
seseorang dalam memahami adalah kebalikan dari menghafal. Semakin bertambah
usia seseorang,maka kemampuan memahami juga akan semakin baik.
Sebaik-baik kiat dalam
menghafal Al-Quran adalah dengan memperkuat “WHY?”
Kenapa ingin menghafal Quran?
Kajian 2
- Meneladani Rasulullah saw.
- Meneladani sahabat,tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Merupakan aib di kalangan tabi’in jika seseorang sudah memasuki usia 2 digit (>9 thn) tapi belum hafal quran. Quran adalah yang pertama kali dihafal sebelum menghafal ilmu lainnya seperti hadits dll. Contohnya Imam Syafi’i,beliau hafal Quran usia 7 tahun,baru kemudian mendalami fiqih.
- Karena ada perintah untuk menghafal Quran (Qs. Al-Baqoroh:63)
- Karena menghafal Quran adalah jebakan untuk terus berquran seumur hidup. Maksudnya menghafal itu hukumnya fardhu kifayah sedangkan menjaga hafalan hukumnya fardhu ain. Ijma ulama menyebutkan bahwa melupakan hafalan termasuk dosa besar. Jadi mereka yang memilih untuk menghafal Quran secara otomatis akan masuk pada kubangan murojaah yang dimana kita takkan bisa lari darinya.
- Banyak sekali keutamaan menghafal Quran. (InsyaAllah akan dibahas pada tulisan yang lain)
BerQuran ditengah kesibukkan
Muhammad Farras Muhadzdzib
Di kajian kedua ini,lebih
ke sharing pengalamannya bang Farras. Karena gue terlalu asyik dengerin kisah
beliau,jadi gabanyak yang gue catet. Hanya quotes-quotes gitu sih yang gue
catet.
- Ketika Allah memberikan kekurangan,Allah juga pasti akan menghadirkan kelebihan. So fokus sama kelebihan yang kita punya dan terus berusaha perbaiki diri.
- Perbanyak syukur dari hal-hal kecil. Karena jika hal kecil saja tidak bisa kita syukuri,maka kita tidak akan bisa mensyukuri hal yang lebih besar
- Ini bagian cerita bang farras yang gue suka karena gue sendiri pernah ngerasain. Ketika belum lama memasuki karantina Quran,beliau jatuh sakit. Diare,demam,migran dsb datang bersamaan. Lalu ada temen beliau yang dateng bantu mijitin sambil bilang
“Bang, ngafal Quran itu jangan pake otak,gaakan kuat,nanti otak kita pecah. Gunung aja ga sanggup dikasih quran. Ngafal tuh pake ini (nunjuk hati)”
- disitu bang farras merasa tertampar. Baru sadar mungkin di awal memang ada kesombongan yang merasa dirinya kaum intelektual,sehingga akan lebih mudah dalam menghafal. Padahal nyatanya tidak.
- Ketika kita menjaga Quran,Allah sendiri yang akan menjamin kehidupan kita
- Jika kalian beralasan sibuk sehingga tidak bisa menghafal,maka secara tidak langsung kalian mengatakan bahwa para penghafal quran adalah pengangguran. Padahal kenyataannya,tidak ada penghafal quran yang kerjaannya nyantai-nyantai. Mereka adalah orang-orang yang mengambil peran dimanapun mereka berada. Hari-harinya dipenuhi oleh serangkaian aktifitas yang juga sama dengan oranglain pada umumnya. Sekolah,kuliah,kerja,berumah tangga dll.
"Luangkan hatimu untuk Quran, maka Allah akan luangkan waktumu"
Sekian sharing kali ini. Semoga
bermanfaat dan bisa menambah motivasi kita dalam menghafal Quran. Kalo kalian,punya
carita seru apa Ramadhan kali ini?yuk cerita di kolom komentar.

Masyaa Allah,tabarakallah. Sering sering yah nulis tentang kisah atau cerita perjuangan seseorang untuk berusaha jadi hamba yang taat, jadi motivasi banget. Ditunggu next stories nya, jazakillah.
BalasHapusSiap InsyaAllah. Makasih sudah mau mampir hehehe😊
HapusTerimakasih motivasi nya, semoga bermanfaat untuk yg membaca, aamiin
BalasHapusAamiin.Thankiuuu sudah mampir broo
HapusBarakallah ka niid💕
BalasHapus